Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
(QS. An-Nashr 1-3)
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

6/12/2011

Subhanallah...Melalui Internet, Mereka Belajar Islam, Lalu Menjadi Mualaf


Usianya baru 18 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Berpamitan hendak berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri, ia terbang ke Arab Saudi dan menyatakan kislamannya di negeri itu.

"Dia masih ada di sini untuk berlibur," kata Majed Al-Osaimi, direktur www.edialogue.org, website dakwah yang banyak dikunjungi publik Barat yang tertarik pada Islam.

Berbicara kepada Arab News, ia mengatakan seorang remaja, yang sedang belajar di Amerika Serikat, juga menerima Islam sebagai agama baru setelah ngobrol dengan seorang daiyah yang berhubungan dengan website itu.

"Gadis itu telah memperoleh beberapa pengetahuan tentang Islam dan membersihkan semua keraguannya selama 20 menit percakapan dengan pekerja dakwah kami dan menyatakan dia ingin segera bersyahadat," kata Al-Osaimi.

Dia mengatakan, situs, yang didirikan pada bulan Maret tahun ini, telah berperan dalam mengislamkan 119 orang dari kebangsaan berbeda. Kini mereka terus menjalin kontak dengan para mualaf ini untuk melakukan bimbingan online.


Ia memprediksi, jumlahnya akan meningkat pesat, mengingat respons jamaah maya saat ini. "Setiap satu atau dua hari sekali, ada satu orang yang menerima Islam sebagai agama mereka melalui website kita," jelasnya.

Al-Osaimi juga meminta Muslim lainnya di Barat untuk mengajar anak-anak mereka tentang Islam pada usia dini. "Itu tugas mereka untuk membawa anak-anaknya atas dasar budaya Islam dan tradisinya," katanya.

Ia mengatakan ia juga telah menghubungi gadis itu dan menemukan bahwa ia telah belajar banyak tentang Islam dari sumber yang berbeda.

"Dia bertanya beberapa pertanyaan yang sangat penting tentang Islam," tambahnya. Gadis itu juga ingin belajar bahasa Arab untuk membaca dan memahami Alquran dalam bahasa aslinya.

Dia mengatakan mereka yang berkebangsaan India adalah mayoritas mualaf baru yang menyatakan keislamannya melalui website yang berbasis di Dammam, Arab Saudi ini.

Ia menjelaskan, situs dijalankan oleh 11 staf yang kesemuanya adalah relawan dan pekerja full-time. Mereka yang memeluk Islam melalui situs ini berasal dari Inggris, Perancis, Australia, Amerika Utara, Filipina, Rumania, Nigeria, dan Kamerun.

Lebih dari 90 ribu orang sejauh ini telah berpartisipasi dalam web chat room mereka.

"Kami memiliki rencana untuk memperluas situs web termasuk dalam beragam bahasa," katanya.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/06/10/lmjubb-subhanallahmelalui-internet-mereka-belajar-islam-lalu-menjadi-mualaf

Selengkapnya

Kaum Wanita, Mari Merenung dan Ambil Hikmah


Semoga kisah ini bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku:
Sore itu aku menunggu kedatangan temanku yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Seorang akhwat datang, tersenyum, dan duduk di sampingku, lalu mengucapkan salam.

Setelah berkenalan dan ngobrol, ia lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Anti (kamu) sudah menikah?”.

“Belum mbak”, jawabku.

Kemudian akhwat itu bertanya lagi, “Kenapa?”

Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.

“Nunggu suami,” jawabnya.

Aku melihat ke samping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya, “Mbak kerja di mana?”


Entahlah apa yang meyakinkanku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah, 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi,” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat kepada suami,” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak. Apa hubungannya? Heran.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum, lalu bercerita panjang lebar,

"Ukhti, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya tujuh juta per bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarin untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali Ukhti. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata: 'Abi, Umi pusing nih, ambil sendirilah.'

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa shalat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat shalat. Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalau bukan suami saya. Terlihat lagi semua baju kotor telah dicuci.

Astaghfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu. Ya Allah panas sekali pipinya, keningnya. Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang diusapnya.

“Anti tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 ribu per bulan. Hanya sepersepuluh dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya. Dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata, 'Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Diambil ya buat keperluan kita. Tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridha.'

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

"Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami,” lanjutnya lagi tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk bicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam membisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan?

“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita Kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalau suami Kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah Kakak juga sih, kalau mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak Bapak, cuma suami Kakak yang tidak punya penghasilan tetap. Dan yang paling membuat kami kesal, sepertinya suami Kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawari kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau. Sampai heran aku, apa maunya suami Kakak itu,” katanya lagi menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“Anti tahu, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud di malam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu dia belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridha atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu.

Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran daripada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anti mendapatkan suami seperti saya, anti tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhti, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram,” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridha.

Ya Allah…

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku.

Subhanallah... Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

Sumber: http://penulis165.esq-news.com/2011/inspirasi/06/10/kaum-wanita-mari-merenung-dan-ambil-hikmah.html

Selengkapnya

11/15/2010

Hidup Penuh Perjuangan

Seorang pria menemukan sebuah kepompong di kebun. Ia memungut lalu membawanya kerumah untuk diamati. Suatu hari kepompong itu bergerak dan robek sedikit demi sedikit, dan kaki kupu-kupu tersembul dari dalam. Ia ingin menyaksikan perjuangan kupu-kupu itu keluar dari balutan serabut kepompong. Usaha itu sempat terhenti , rupanya calon kupu-kupu kehabisan tenaga untuk merobek kepompongnya. Lantas diam tak bergerak.

Melihat beratnya perjuangan hewan cantik ini sang pria merasa iba. Lantas diambilnya gunting lalu dibuatlah lubang besar pada kepompong sehingga kupu-kupu muda itu keluar dengan mudah. Namun apa yang terjadi? Tubuh kupu-kupu tersebut terlihat bengkak mengandung air, tak bergeming, sementara sayapnya kisut terkatup. Sang pria terus mengamati dan mennatikan terjadi. Namun hewan ini hanya beringsut kekiri dan kekanan perlahan. Sayapnya tetep layu terkatup tanpa tenaga.

Meski apa yang dilakukan pria itu baik, yakni menolong kupu-kupu, namun karena ketidak tahuannya langkah itu justru mematikan yang ditolong. Mengapa? Banyak orang tidak mengetahui bahwa perjuangan kerasnya merobek kepompong itu justru cara sang pencipta untuk memopa cairan dari tubuh kupu-kupu agar mengalir kesegenap bagian sayap, sehinggga bisa menggerakkan sayap untuk terbang melepaskan diri ke alam bebas.

Terkadang kehidupan kita membutuhkan perjuangna keras. Bila sang pencipta membiarkan kehidupan kita berlangsung mulus terus tanpa masalah dan tantangan, justru akan membuat kita lumpuh tanpa daya. Kita tidak akan sekuat seperti yang seharusnya. Tak hanya itu kita pun tidak akan bisa terbang.

Dikutip dari: Majalah Idebisnis edisi 5/ Oktober 2010

Selengkapnya

11/10/2010

Cinta Itu Pink

Hidup tanpa cinta laksana laut tanpa garam, tentu semua kehidupan yang ada di dalamnya akan mati. Begitupun kehidupan yang sementara dan sesaat yang kita alami sekarang ini, hidup tak bisa lepas dari yang namanya cinta. Contoh seorang Ibu bisa mengurus anaknya dengan baik karena cinta, seorang isteri menyiapkan sarapan yang sehat untuk suaminya karena cinta, seorang guru atau ulama mengajari ilmu kepada anak didiknya karena cinta, sang pemimpin berlaku adil atau membela orang-orang yang lemah juga karena cinta, Tetangga menolong tetangganya karena cinta atau memberi sesuatu yang bermanfaat kepada tetangganya pun karena cinta.

Nabi saw. bersabda: Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (Hadis riwayat Anas bin Malik ra, Shahih Muslim No.64)

Antara Cinta dan Kewajiban

Cinta berbeda dengan kewajiban, kewajiban adakalanya dilakukan dengan rasa terpaksa. Tapi kalau karena cinta, jalan dan rintangan yang bagaimana pun sulitnya akan dijalani dengan rasa senang dan bahagia. Dengan cinta semua yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi mudah, apapun dijalaninya. Dan Cinta pula yang membuat seseorang menjadi mudah melakukan yang baik-baik, ya begitulah cinta,

“Cinta itu indah, karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yg luas, dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yg diperlukan oleh org2 yg kita cintai utk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya" (Anis Matta)


Cinta Allah

Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya cinta adalah cinta kepada sesama. Namun perwujudan rasa cinta itu adalah seperti tertuang dalam firman-Nya,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan MEMBERIKAN HARTA YANG DICINTAINYA kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (AL BAQARAH ayat 177)

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (ALI 'IMRAN ayat 92)

Atau Firman-Nya berikut ini,

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (ALI 'IMRAN ayat 31)

Mencintai sesuatu berarti mengutamakan sesuatu, bila keutamaan itu sampai membuat seseorang lupa pada Allah, maka sesuatu itu menjelma menjadi tuhan bagi dirinya. Berbeda dengan orang yang mencintai Allah. Orang yang mencintai Allah pasti mencintai sesuatu, tapi orang yang mencintai sesuatu belum tentu mencintai Allah.

Seorang penyair berkata:

Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Alloh jalla wa ‘ala

Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula
Yaitu surga

Iman bukanlah khayalan atau angan kosong belaka, tetapi ia tertanam kuat dalam hati dan melahirkan amal-amal sholeh atau perbuatan-perbuatan yang menggambarkan kecintaan seseorang. Oleh karena itu betapa indahnya hidup ini jika kita mampu menjalani hidup yang penuh cobaan ini dengan hanya bersandar kepada-Nya saja, Firman-Nya,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,... (AL A'RAAF ayat 96)

Namun untuk melaksakannya memang tidak gampang, oleh sebab perilaku manusia itu sendiri. Mereka suka sekali menyakiti sesamanya baik disadari atau pun tidak seperti menggunjing, mereka tahu itu dosa namun sudah seperti lalapan sehari-hari. Wahai saudaraku, ingatlah perbuatan sia-sia selalu menunjuk kearah perbuatan dosa,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (AL HUJURAAT ayat 12)

Jauhilah kebiasaan menggunjing, karena menyebabkan tiga bencana: pertama, doa tak terkabul. Kedua, amal kebaikan tak diterima. Dan ketiga, dosa bertambah (Riwayat Ali bin Abi Thalib)

Nabi Saw telah menggambarkan sifat orang mukmin yg sesungguhnya,

Beliau bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)

Jadi secara sederhana kita bisa mengambil kesimpulan : Semakin kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, maka semakin meningkat pula cinta kita kepada-Nya dan seluruh Ciptaan-Nya atau hamba-hamab-Nya, dan tentu semakin baik pula akhlak kita terhadapnya.

Nabi Muhammad saw mengatakan: agama islam itu pada hakikatnya adalah keluhuran akhlak. Sabdanya lagi, sesempurna-sempurna iman orang beriman ialah yang terbagus akhlaknya.

Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua.
Juga semoga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang dicinta dan mencintai. Allahumma Amin.

Barakallahu fikum

Selengkapnya

10/19/2010

Antara Asma Ul-husna dan Sahabat Spiritual

Bagiku asmaul-husna bukan hanya sifat-sifat Tuhan yang patut ditiru dan diamalkan oleh setiap hamba-Nya. Ketika aku mendengarkan lantunan Asmaul-husna, aku seperti merasakan kedamaian. Kedamaian yang membuat jantung ini sedikit melambatkan tempo denyutnya. Kedamaian yang mengajak mata ini terpejam, menghayati setiap nama-nama Allah...

Waktu aku masih berumur 10 tahun, aku masih belum mengerti tulisan arab yang selalu ada di sampul depan dan belakang al-Quran (semua al-Quran di rumahku seperti itu). Aku pernah bertanya kepada teman satu pengajianku tentang tulisan arab itu, “Ini doa apa?” tanyaku dengan polosnya. “Itu asmaul husna.” jawabnya. “Apa itu?” tanyaku lagi. “Ga tau! Tanya aja sama pak ustad!” jawabnya sambil menunjukkan jarinya ke arah guru kami.

Guru kami berkata, “Itu adalah nama-nama Allah Yang Maha Sempurna ” aku menganggukkan kepala walaupun masih bingung. Aku menghitungnya, dan aneh sendiri, kenapa jumlahnya hanya 99? Kenapa tidak digenapkan saja menjadi 100? Seperti ulangan matematikaku yang tidak pernah dapat 100, dan aku selalu mengharapkan angka 100 di setiap mata pelajaran, karena 100 itu angka sempurna! “Jika Allah sempurna, kenapa jumlah namanya tidak 100?” aku bertanya lagi kepada pak ustad, tapi dia diam saja. Dia malah menugaskan kami untuk menghafalkan 99 nama yang masih asing di mata dan telingaku kala itu.

Bulan berganti bulan, 99 nama Allah belum bisa juga aku hafal dengan benar. Aku malu, temanku yang lain sudah hafal sedangkan aku belum... Aku mengeluh, “Pak Ustad, kok aku belum hafal juga ya?”. Beliau hanya berkata dengan lembut, “Suatu saat kau akan hafal, tidak hanya hafal, tapi mengerti maknanya... Mungkin sekarang belum saatnya...”
Tahun berganti tahun.


Di umurku yang ke-18, aku baru mengerti. Dan perkataan guruku 8 tahun yang lalu telah terbukti. Training ESQ lah yang mengantarku pada jalan yang terang. Tidak hanya menyadarkanku tentang siapa aku dan siapa tuhanku, tapi juga mengajarkanku menghafal dan mengenali nama-nama Allah... tidak hanya hafal, tapi mengerti maknanya walaupun tidak semua.


Asmaul husna menjadi budaya, menjadi ritual tersendiri, mungkin ini yang menyebabkan aku hafal, karena setiap kali ada pertemuan, pengajian, bahkan di setiap rapat kecil selalu diawali dengan membaca asmaul-husna bersama-sama. Begitu juga briefing ATS di pagi hari sebelum training ESQ dimulai. Aku memang bukan termasuk orang yang aktif di ATS (Alumni Training Support) tapi setidaknya aku pernah sekali dua kali mendapat kesempatan jadi ATS, dan membaca asmaul-husna bersama trainer, asisten trainer, juga para ATS merupakan momen yang paling berkesan, momen yang paling indah, momen yang paling sulit dilupakan. Persaudaraan karena Allah...

Aku pernah juga menjadi panitia In House Training ESQ di kampusku. Setiap pagi di mana kampus masih sepi, hanya ada burung-burung kecil yang mencari makan dan tukang sapu yang selalu datang pukul enam. Aku dan panitia lain berkumpul di suatu tempat, menggelar tikar atau alas seadanya, lalu kami berkumpul melingkar, tidak banyak, hanya empat sampai lima orang, salah satu dari kami memimpin doa, setelah itu dilanjutkan dengan membaca asmaul-husna... Begitu indah setiap pagi kami karena diawali dengan asmaul-husna. Aktivitas kami dimulai dengan menyerukan nama-nama Allah, dan kami bejuang hingga petang hanya untuk mengajak mahasiswa lain mengenal ESQ, bahkan lebih jauh lagi, mengenal siapa dirinya dan Tuhannya. Kami hanya ingin mereka merasakan kebahgian yang kami rasakan. Perjuangan kami selama hampir 4 bulan memang tidak sebanding dengan perjuangan Rasulullah, tapi inilah sedikit persembahan dari kami untuk Rasul kami, kami ingin membuat Rasulullah tersenyum, hanya itu.

Dan sekarang, ketika aku mendengar lantunan asmaul-husna dari mp3 player, siapa yang pertama kali terbesit? Tidak hanya Allah... Tapi sahabat-sahabat spiritualku... Ada bayangan mereka di langit-langit kamarku, terkenang kembali saat-saat indah ketika kami sedang berjuang, di saat kami sedang berkumpul, dan di saat kami mengaji di hari Rabu... kami pernah saling mengingatkan, saling menopang, saling menghibur, dan saling mendoakan.

Itulah yang membuat hatiku bergetar setiap kali lantunan asmaul-husna terdengar...

* Untuk sahabat-sahabat spiritualku di Fosma UIN :)

Selengkapnya